Tentang Nasi Tumpeng Yang Harus Kamu Ketahui, Fatal Kalau Sampai Salah

fakta nasi tumpeng
Foto: indochili.com

Indonesia memang memiliki tradisi dan adat-istiadat yang sangat kaya. Misalnya saja menghadirkan nasi tumpeng pada saat acara perayaan atau syukuran. Tradisi ini pun telah menjadi tradisi lama yang sudah dilakukan secara turun temurun. Pada momen perayaan hari kemerdekaan Republik Indonesia pun, nasi tumpeng menjadi salah satu hidangan yang wajib ada.

Namun meski sudah begitu familiar dengan nasi tumpeng, ternyata ada beberapa fakta tentang nasi tumpeng yang mungkin saja belum kamu ketahui.

Cara Penyajian

Nasi tumpeng biasanya disajikan di atas tampah atau wadah tradisional berbentuk bundar yang terbuat dari anyaman bambu dan telah dialasi dengan daun pisang.

Umumnya nasi tumpeng menggunakan nasi kuning yang disajikan dengan bentuk kerucut dan dikelilingi dengan beberapa macam lauk-pauk.

Bentuk Kerucut Menggambarkan Kondisi Geografis Indonesia

Berasal dari tradisi di Jawa, Bali dan Madura, bentuk tumpeng yang mengerucut ternyata erat kaitannya dengan kondisi geografis Indonesia, terutama pulau Jawa, yang dipenuhi jajaran gunung berapi. Hal ini bermaksud untuk memuliakan gunung sebagai tempat bersemayamnya para hyang atau arwah leluhur.

Lauk-Pauk Terdiri Dari Hewan Laut Dan Hewan Darat

Secara tradisional, lauk-pauk yang digunakan untuk nasi tumpeng harus terdiri dari hewan darat (ayam atau sapi) dan hewan laut (ikan lele, ikan bandeng atau rempeyek teri). Selain itu juga terdapat sayur mayur yang biasanya disajikan dalam bentuk urap-urap.

tentang nasi tumpeng
Foto: Pinterest

Baca Juga: Memasak Nasi Kuning Agar Tampak Mengkilap Cantik Dan Tak Mudah Basi

Makna Tumpeng

Bentuk kerucut nasi tumpeng merepresentasikan konsep ketuhanan dengan sesuatu yang besar dan tinggi, berada di puncak. Selain itu, bentuk yang menjulang ke atas juga menyimbolkan harapan agar tingkat kehidupan manusia semakin ‘tinggi’ alias sejahtera.

Nasi Tumpeng Tidak Seharusnya Dipotong Dari Atas

Dikutip dari ucapan Murdjati melalui kompas, “Bagian atas tumpeng terdiri hanya dari satu butir nasi. Itu adalah simbol dari Tuhan yang Maha Esa. Makin ke bawah adalah umat dengan berbagai tingkat kelakuannya. Makin banyak adalah umat yang kelakuannya tidak begitu baik, yang sempurna hanya sedikit. Makanya tidak boleh dipotong puncaknya,”.

Sehingga memotong tumpeng dari puncaknya, justru menyalahi filosofi tumpeng yang merupakan representasi hubungan manusia dengan Tuhan. “Kalau dipotong puncaknya berarti memotong hubungan umat dengan Tuhan. Dipotong atasnya juga lauknya tak kena,” kata Murdjati. Karena itu nasi tumpeng seharusnya dimakan secara bersama-sama dengan cara mengelilinginya.

Selalu dapatkan info, tips dan berbagai resep masakan di Kitchen Of Indonesia.
Follow us on:
Instagram: KitchenOfIndonesia
Facebook: Kitchen Of Indonesia
Youtube: Kitchen Of Indonesia

What do you think?

0 points
Upvote Downvote

One Comment

Leave a Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

mie lendir kuliner khas provinsi riau

Dari bagian pantai timur Pulau Sumatera, ini makanan khas Provinsi Riau

mie celor khas jambi

Kaya rasa, ini makanan khas Jambi yang harus banget dicobain