Dari manis sampai gurih, kenalan yuk dengan sajian khas Ramadhan dari Timur Tengah!

Biasa disantap saat berbuka puasa~

Kunafeh. Image source: albawaba.com

Ramadhan yang hanya datang sekali setiap tahunnya menjadikan bulan ini begitu istimewa bagi umat muslim. Selain aktivitas ibadah, aktivitas lain di bulan Ramadhan juga berbeda dengan hari biasa, tidak terkecuali aktivitas makan. Pola makan yang biasanya tiga kali sehari berubah menjadi dua waktu makan utama, yaitu saat sahur dan berbuka puasa. Tidak heran jika umat muslim di berbagai penjuru dunia mengistimewakan waktu makan ini, terlebih ketika waktu berbuka.

Waktu berbuka adalah waktu yang ditunggu-tunggu oleh orang yang berpuasa setelah seharian penuh menahan lapar dan haus. Setiap negara memiliki sajian-sajian khas ramadhan yang dihidangkan untuk berbuka puasa. Apalagi di negara-negara Timur Tengah, tempat lahir dan berkembangnya budaya Islam.

Jangan salah, menu berbuka puasa di Timur Tengah bukan hanya kurma, lho. Terdapat hidangan-hidangan bercita rasa gurih sampai manis yang kalau kamu lihat, pasti ngiler dan ingin wisata ke sana, deh! Berikut merupakan sajian-sajian khas ramadhan dari Timur Tengah yang biasa dihidangkan saat berbuka puasa:

Chebakia

Chebakia. Image source: cookingwithalia.com

Chebakia adalah kue tradisional Maroko berupa potongan adonan yang digulung menyerupai bunga, kemudian digoreng dengan metode deep fry. Setelah ditiriskan, chebakia direndam dalam madu yang sudah dicampur air bunga jeruk atau air mawar. Terakhir, kue bertekstur padat dan lengket ini ditaburi wijen sangrai sehingga tampilannya semakin cantik dan menggoda.

Bahan-bahan yang digunakan untuk membuat adonan chebakia antara lain tepung terigu, bubuk kunyit, kayu manis, dan adas manis. Tidak heran, rasanya yang legit membuat kue ini cocok sekali dijadikan takjil. Kandungan madunya dijamin bisa langsung mengembalikan energi yang hilang setelah seharian berpuasa, deh!

Meski chebakia dijual sepanjang tahun di berbagai toko, bulan ramadhan merupakan saat kue berwarna coklat ini tidak pernah absen dari meja keluarga-keluarga Maroko. Para orang tua di Maroko biasanya berkumpul bersama sanak saudara dan dapat menghabiskan waktu seharian penuh untuk membuat kue ini dalam jumlah besar agar cukup dijadikan takjil selama bulan puasa.

Harira

Harira. Image source: tasteofmaroc.com

Sama seperti chebakia, harira merupakan salah satu hidangan wajib untuk berbuka puasa di bulan Ramadhan bagi masyarakat Maroko. Bedanya, harira bukan kue melainkan sup tradisional yang di dalamnya berisi tomat, buncis, daging (ayam, sapi, atau kambing), dan lentil. Harira berasal dari bahasa Arab yang berarti sutra, karena sup ini bertekstur kental. Pengental dalam sup ini bisa dibuat dengan menambahkan telur atau dengan tepung yang dicairkan dengan sedikit air. Citarasa tebal dan lezat yang terdapat dalam harira diperoleh dengan menambahkan rempah seperti jahe, lada, kayu manis, kunyit, lada hitam, dan tomat yang telah dijadikan pasta. Sebagai penyeimbang, irisan daun ketumbar, peterseli, seledri, dan bawang merah menjadikan sup ini terasa segar ketika disantap. Biasanya, ke dalam harira juga ditambahkan nasi atau bihun yang sudah dicacah.

Kunafeh

Kunafeh. Image source: albawaba.com

Setelah dari Maroko, kita beralih ke Palestina yang memiliki hidangan penutup bernama kunafeh. Kunafeh terbuat dari pastri yang mirip dengan bakmi tipis. Adonan pastrinya dibuat menggunakan tapung semolina, yaitu tepung gandum keras yang lebih tinggi protein dari tepung terigu biasa. Penggunaan tepung semolina membuat adonan yang dihasilkan menjadi lebih kenyal. Pastri kunafeh yang manis, berpadu dengan kacang-kacangan, keju ricotta, dan sirup yang terdiri atas gula merah, susu, jus lemon, dan teh mawar, menjadikan makanan ini sempurna sebagai penutup setelah makan berat saat berbuka puasa. Cara membuat kunafeh adalah dengan memanggangnya. Meski sangat populer di Palestina, kunafeh juga dikenal di negara-negara Kaukasus, Yunani, dan negara Timur Tengah lainnya.

Qatayef

Qatayef. Image source: amiraspantry.com

Qatayef adalah pancake ‘mini’ dengan isian krim susu atau campuran kacang-kacangan, kemudian disiram dengan sirup tradisional yang terbuat dari gula dan air mawar atau air jeruk. Qatayef dibentuk kerucut dengan tutup hanya di satu sisi, sedangkan di sisi lain -dimana krim susu terlihat- akan dicelupkan ke pistcahio yang sudah dihancurkan.

Baca Juga: Resep Qatayef Hidangan Wajib Bulan Ramadhan Ala Timur Tengah

Sajian yang populer di Mesir, Irak, Lebanon, Suriah dan negara-negara Teluk lainnya ini sudah menjadi langganan untuk ‘duduk manis’ di meja makan keluarga Timur Tengah.

Umm Ali

Umm Ali. Image source: thewanderlustkitchen.com

Umm Ali secara bahasa berarti Ibu dari Ali. Terdengar sedikit aneh, ya?

Penamaan di balik makanan ini memiliki kisah yang dituturkan dengan beragam versi, namun dipercaya bahwa makanan ini memiliki kaitan dengan istri pertama dari Izz al-Din Aybak, sultan Mamluk Mesir yang pertama.

Umm ali adalah dessert manis tradisional dari Mesir yang terbuat dari puff pastry, krim dan susu, kacang almond, kismis, dan kelapa. Sekilas tampilannya mirip dengan puding roti yang biasa kita buat. Bedanya, dessert yang dipanggang ini tidak menggunakan telur sama sekali. Tekstur makanan penutup yang satu ini lembut tetapi masih menyisakan sensasi pastrinya ketika dimakan. Umm Ali biasa disajikan dalam kondisi hangat, fresh from the oven!

Baca Juga: Resep Umm Ali, Dessert Manis dari Mesir yang Mudah Dibuat

Kousa Mahshi

Kousa mahshi. Image source: iranreview.org

Kousa mahsi merupakan hidangan rumahan yang dikenal di Lebanon, Suriah, dan negara-negara Timur Tengah lain. Kousa Mahshi memiliki bentuk yang unik karena dibuat dari zucchini yang di dalamnya diisi dengan nasi, kadang juga ditambah daging, serta memiliki kuah berbumbu yang menyegarkan. Di Suriah, sebenarnya makanan ini tidak benar-benar menggunakan zucchini, namun sejenis labu musim panas yang disebut kousa. Buahnya lebih kecil dan bulat ketimbang zucchini. Meski begitu, di berbagai kawasan lain makanan ini lumrah dibuat dari zucchini atau jenis labu-labuan yang lain. Kousa mahshi dimasak di atas kompor atau bisa juga dalam oven.

Aish el-Saraya

Aish El-Saraya. Image source: nevermindthehummus.com

Satu lagi puding roti khas Timur Tengah yang biasa disajikan saat berbuka puasa: Aish el-Saraya. Dessert ini populer di Mesir dan Lebanon, terbuat dari remah roti yang direndam sirup tradisinoal dan ditutup dengan gumpalan krim dan pistachio. Memang, berbagai makanan manis dari Timur Tengah kebanyakan tidak dapat dilepaskan dari sirup tradisional mereka yang merupakan campuran gula dan air tawar atau air jeruk. Namun, justru sirup inilah yang memberikan cita rasa khas dessert Timur Tengah dibanding dessert dari kawasan lain.

Meski tampak kental, aish el-saraya tidak mengandung telur atau mentega sama sekali, lho.

Baca Juga: Kamu yang penggemar biskuit regal, sudah pernah coba dessert kekinian ini belum?

Itulah beberapa sajian dari Timur Tengah yang biasan disantap untuk berbuka puasa. Mana yang ingin sekali kamu cicipi?

Selalu dapatkan info, tips, dan berbagai resep masakan di Kitchen Of Indonesia.

Follow us on:
Instagram: KitchenOfIndonesia
Facebook: Kitchen Of Indonesia
Youtube: Kitchen Of Indonesia

What do you think?

0 points
Upvote Downvote

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Tips biar masak jadi lebih cepat selama ramadhan

Hati-hati dengan makanan dan minuman ini kalau gak mau bau mulut selama puasa