Bulan kelahiran RA Kartini, saatnya berkenalan dengan kuliner khas kota kelahirannya di Jepara

Siapa yang tidak kenal Ibu Kartini?

source: pesona.travel

Sejak di sekolah TK, orang Indonesia kebanyakan sudah familiar dengan nama pahlawan pejuang pendidikan bagi para perempuan ini. Hal itu lantaran siswa-siswa TK kerap menyanyikan lagu ‘Ibu Kita Kartini’, terlebih jika sudah memasuki bulan April.

Pahlawan bernama lengkap Raden Ajeng Kartini Djojo Adhiningrat ini dilahirkan pada 21 April 1879 di Mayong, Jepara, Jawa Tengah. Nah, mumpung masih dalam bulan kelahiran R.A Kartini, mari kita berkenalan juga dengan makanan-makanan khas dari kota kelahirannya, Jepara, yang ternyata tidak kalah tersohornya dengan Ibu Kartini. Apa saja, ya?

Rondo Royal

source: resepkoki.id

Paduan tape singkong -yang kalau di tanah Sunda biasa disebut peuyem- dibalut adonan tepung beras dan sedikit tepung terigu pasti membuat penganan satu ini cocok sekali untuk menemani aktivitas santai di sore hari, apalagi jika ditemani secangkir minuman hangat. Biasanya, tape singkongnya dihancurkan dan dicampur bahan lain, semisal santan, gula, dan garam agar rasanya lebih seimbang. Beberapa juga menambahkan serutan gula merah yang diisikan ke dalam bulatan rondo royal, sehingga setelah digoreng, gula merah akan meleleh dan memberi sensasi seperti kue misro (adonan singkong parut berisi gula merah yang kemudian digoreng) ketika kamu menggigitnya. Tekstur rondo royal ini adalah garing di luar namun lembut di dalam.

Baca juga: Jajanan tradisional Indonesia yang gunakan gula merah sebagai topping

Secara harfiah, arti kata rondo royal dalam bahasa Jawa adalah ‘janda mewah’. Tidak diketahui secara pasti mengapa camilan ini dinamakan seperti itu, namun jika dibilang mewah, mungkin karena rasa rondo royal ini memang mewah bagi lidah, ya. Dengan bahan yang sederhana, rondo royal mampu membuat lidah bergoyang dan terus ketagihan memakannya.

Blenyik

source: wikipedia.org

Nama makanan ini tidak kalah uniknya dengan rondo royal yang kita bahas di atas. Blenyik terbuat dari ikan teri mentah yang digarami, dikepal hingga berbentuk bulatan kecil, kemudian dijemur hingga kering. Proses ini membuat blenyik bisa bertahan lama dan dapat dijadikan oleh-oleh bagi para wisatawan setelah mengunjungi Jepara.

Blenyik tidak dapat langsung dikonsumsi, melainkan diolah terlebih dahulu dengan digoreng, ditumis, atau dikukus bersama tambahan bahan lain. Meski bentuknya yang unyil dan relatif murah, blenyik dapat menjadi alternatif untuk memenuhi kebutuhan gizi kamu dan keluarga, lho.  Pasalnya, blenyik yang merupakan ikan teri ini adalah salah satu sumber kalsium dan zat besi yang tinggi. Selain itu, kandungan lemak omega 3-nya juga berguna membantu kinerja otak. Wah, warga Jepara pasti cerdas-cerdas, nih?

Baca juga: Kecil, Tapi Ikan Teri Ternyata Menyimpan Manfaat Besar Untuk Tubuh

Lontong Krubyuk

source: instagram.com/inainu.id

Krubyuk atau ngrubyuk, dalam bahasa Jawa berarti beraktivitas (berjalan) di air atau berjalan melewati genangan air. Tak heran jika lontong krubyuk disajikan dengan kuah yang banyak hingga menggenangi isiannya. Berbeda dengan sajian lontong lain yang biasanya berkuah santan, lontong khas Jepara ini menggunakan kuah bakso, dengan tambahan suwiran ayam semur, daun seledri, dan tauge setengah matang. Dijamin mantap untuk dijadikan menu di siang hari yang terik!

Kuluban

source: instagram.com/makanan_jepara

Mungkin kamu tidak asing lagi dengan tampilan makanan seperti itu, ya? Sekilas kuluban memang mirip dengan makanan lain yang sejenis, misalnya urab. Perbedaannya, kuluban menggunakan nangka muda yang direbus dan tauge serta petai yang keduanya mentah (tidak direbus). Sementara itu, pada urab kita tidak akan menemukan nangka muda dan tauge yang digunakan juga sudah direbus. Agar lebih mantap, sedikit terasi ditambahkan pada kelapa parut yang dijadikan bumbu pada kuluban ini. ‘Salad’nya Indonesia ini pasti semakin nikmat jika dimakan bersama keluarga, disandingkan dengan tempe goreng, telur rebus, atau ikan asin goreng.

Baca juga: Berbahan Sayur, Ini Salad Khas Indonesia Penuh Kearifan Lokal

Adon-adon Coro

source: pacarkecilku.wordpress.com

Jangan kaget dulu dengan namanya yang menggunakan kata “coro”. Ya, coro bisa diartikan sebagian masyarakat sebagai sebutan lain bagi hewan kecoa, tapi kuliner khas Jepara satu ini sama sekali tidak berhubungan dengan hewan menggelikan itu, kok!

Adon-adon coro merupakan jamu yang dicampur santan dan air gula merah. Jadi, kamu tidak akan merasa pahit walau mengandung rempah yang kerap digunakan untuk membuat jamu tradisional, seperti lengkuas dan jahe. Bahan lain yang digunakan adalah merica bubuk dan kayu manis, lengkap dengan daun pandan dan potongan-potongan kecil kelapa muda. Adon-adon coro menyuguhkan lidahmu rasa yang seimbang, tidak terlalu manis dan tidak juga terlalu pahit dengan sensasi pedas dari paduan jahe dan merica bubuknya. Meski aslinya minuman ini disajikan dalam keadaan hangat, beberapa penjaja menyediakan es batu sehingga tetap cocok dinikmati saat siang hari ketika kamu ingin melepas dahaga dengan minuman sehat.

Camilan pendamping yang cocok dinikmati bersama adon-adon coro antara lain kacang rebus, pisang goreng, dan camilan-camilan hangat lainnya.

 

Itulah beberapa kuliner khas Jepara yang patut kamu coba sembari mengenang perjuangan RA Kartini di bulan kelahirannya ini.

Selalu dapatkan info, tips, dan berbagai resep masakan di Kitchen Of Indonesia.

Follow us on:
Instagram: KitchenOfIndonesia
Facebook: Kitchen Of Indonesia
Youtube: Kitchen Of Indonesia

What do you think?

0 points
Upvote Downvote

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Jadi Konsumen Harus Cerdas, Ini Hal yang Harus Diperhatikan saat Membeli Produk Makanan

Resep Membuat Tonik Lemon Mint Menyegarkan, Menyejukkan